Jejak Kaki Seorang Balita di Puncak Kawah Ijen

You are currently viewing Jejak Kaki Seorang Balita di Puncak Kawah Ijen

Oleh : Muhammad Shafihan Rosyid

Pendaki remaja atau dewasa naik gunung? Ah! sudah biasa. Bagaimana jika seorang balita ikut mendaki? Penasaran kan? Kita adalah keluarga kecil atau bisa disebut keluarga cemara dengan dua orang anak. Anak pertama sudah berada di persimpangan jalan naik ke bangku kelas 5. Anak kedua kita bernama Haikal Azril Arrosyid. Dia baru saja menggenapkan usianya 3 tahun pada tanggal 10 Mei 2022 lalu. Istriku adalah seorang ibu rumah tangga. Sehari-hari dia berada di rumah menikmati rutinitas seorang Ibu dengan segala keruwetan pekerjaan rumah ditambah mengasuh si kecil, Azril, yang begitu aktif. Beberapa waktu yang lalu, terlintas di benakku untuk mengajak istriku refreshing untuk healing ke Kawah Ijen agar tidak bosan dan ada suasana baru. Kebetulan kita adalah pasangan yang seirama, suka dengan sesuatu yang sedikit menantang. Kita sering pergi ke tempat yang butuh nyali dan ekstra usaha untuk mencapainya seperti air terjun, bukit, puncak gunung, semenanjung dan lain-lain.

Mengapa Kawah Ijen? Tidak mungkin kita mengajak Azril mendaki Semeru atau Raung. Kawah Ijen lah yang cukup realistis untuk dipilih meskipun ada resiko yang cukup tinggi yaitu faktor cuaca dingin dan asap belerang yang dapat mengganggu pernafasan. Pertimbangan lain kita memilih ke Kawah Ijen juga karena merupakan salah satu dari sekian tempat healing yang amat eksotis di Jawa Timur. Suatu objek wisata yang memiliki landscape atau bentang alam begitu menakjubkan dan kawah sulfur dengan ciri khas pemandangan blue fire atau api biru pada malam hari yang hanya ada 2 tempat di dunia, dan di Kawah Ijen adalah salah satunya. Tidak mengherankan jika banyak bule atau turis asing yang datang dan mendaki Kawah Ijen hanya untuk menyaksikan keindahannya.

Kita berangkat dari rumah setelah Sholat Maghrib dengan mengendarai mobil. Baru saja tiba di kota tape, Azril mabuk, dan memaksa kita untuk menepi di pom bensin daerah Tenggarang, Bondowoso. Beberapa menit kemudian, setelah keadaan kondusif, kita pun melanjutkan perjalanan kembali. Di sepanjang jalan yang menanjak dan berkelok, lalu lalang kendaraan begitu sepi, kanan kiri jalan berupa vegetasi dengan pohon-pohon besar ditambah lagi tak ada lampu penerangan jalan, membuat suasana sedikit mencekam. Aku menyetir kendaraan sembari terus membaca shalawat di dalam hati agar kita diberi keselamatan oleh Allah hingga tujuan.

Kita sampai di kawasan ijen geopark pada pukul 10.30 malam dan langsung disambut hangat oleh penduduk lokal di sana. Malam pun semakin larut, suhu udara pada tengah malam berada di kisaran 12 derajat Celcius, selisih kurang lebih 13 derajat dibanding suhu kamar di rumahku. Alangkah beruntungnya, ada api unggun di depan warung tempat kita singgah. Itu sangat membantu untuk menghangatkan badan kita.

Pendakian ke Kawah Ijen dibuka pukul 2 dini hari. Ingin sekali rasanya mendaki pada jam itu agar jika beruntung bisa melihat blue fire, akan tetapi hujan mengguyur dengan derasnya. Para pendaki dewasa baik domestik maupun luar negeri tetap melakukan pendakian dengan menggunakan jas hujan dan senter. Kita memutuskan untuk menunggu cuaca bersahabat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kita mulai mendaki pada pukul 5 pagi ketika hari sudah mulai terang. Namun demikian, baru melangkah sejauh 500 meter, hujan kembali turun dan menghentikan langkah kita di sebuah pos istirahat. Menunggu sekitar setengah jam, kita pun melanjutkan perjalanan. Azril awalnya berjalan kaki, namun semakin lama jalannya semakin melambat karena jalannya terus menanjak. Aku pun menggendongnya di pundakku. Aku yang dengan bobot 82 kilogram cukup berat rasanya melangkahkan kaki di tanjakan. Dengan Azril di pundak, semakin terasa gravitasi bumi olehku dan membuat nafasku terengah-engah di tanjakan. Pelan tapi pasti, akhirnya kita sampai di puncak Ijen. Azril sangat senang, dia berlari kesana kemari sambil tertawa. Dia melihat ke kawah dan berkata padaku, “Laut, papa”. “Itu kawah nak, bukan laut”, sahutku padanya

Re-Post : gurusiana.id

Loading

This Post Has One Comment

  1. Pendaki Pemula

    Luar biasa! Mengajak si kecil mendaki Kawah Ijen adalah sebuah petualangan yang inspiratif. Keberanian dan semangat kalian sebagai keluarga patut diacungi jempol. Pengalaman ini pasti akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi Azril, sekaligus membentuk karakter petualang yang tangguh sejak dini. Teruslah menjelajahi keindahan alam bersama keluarga, dan menginspirasi banyak orang dengan kisah-kisah hebat seperti ini!

Leave a Reply