SEPENGGAL KISAH DARI SEBUAH MESIN KETIK

oleh : Ulil Farhah.

.                    .

Berawal dari gemar membaca, muncullah keinginan untuk menulis dan mengirim naskah walaupun hanya sebuah cerita pendek jenaka di majalah favoritku, Amanah. Majalah yang cukup banyak peminatnya di era 1980-an. Majalah yang sering kupinjam dari paman sekaligus dengan mesin ketiknya. Pamanku adalah seorang dosen. Sebab itu beliau punya mesin ketik. Sebenarnya ada rasa sungkan karena khawatir berbenturan dengan tugas beliau. Namun, aku kesampingkan itu semua demi mengeluarkan ide yang ada di pikiranku.

Pertama mengirim naskah, Alhamdulillah lolos dan dimuat di Majalah Amanah. Wesel pos pertama kuterima dengan suka cita. Jerih payahku ternyata tak sia-sia. Kakak dan adikku pun ikut senang karena bisa menikmati traktiran semangkok bakso. Aku masih ingat nominal di wesel pos saat itu. Sepuluh ribu rupiah di tahun 1987 sanggup membuatku senang dan semakin tertantang untuk mengirim naskah selanjutnya.

Ketika akan menulis naskah kedua, rasa sungkan itu masih ada. Untungnya pamanku adalah orang yang murah hati. Tulisan kedua coba kurangkai malam hari, di kamar ketika kakak dan adikku sudah terlelap. Suara mesin ketik itu terasa merdu di telingaku. Namun ternyata suara itu justru mengusik ketenangan tidur saudaraku. Alamak, mengapa mesin ketik harus berbunyi nyaring? Terpaksalah aku pindah ke tempat yang lebih aman.

Alhamdulillah, naskah kedua kembali dimuat di majalah favoritku. Wesel pos kedua pun kuterima dengan penuh suka cita. Aku jadi sering ke kantor pos untuk mencairkan uang. Ribet ya? Tidak seperti saat ini, uang langsung masuk rekening. Tapi itulah seninya. Setiap zaman punya keunikan tersendiri. Syukuri saja.

Diam-diam ternyata ibuku mengerti kegalauanku saat ingin menulis. Aku tidak tahu rayuan apa yang dilakukan ibu terhadap ayah hingga akhirnya bersedia membelikanku sebuah mesin ketik baru. Terharu campur bahagia. Aku masih ingat perkataan ibu saat itu. “Ini, sudah dibelikan mesin ketik, supaya tambah patheng nulismu.” Support ibu melecutku untuk semakin giat menulis. Naskah ketiga yang kukirim berhasil dimuat lagi berkat mesin ketik pemberian orang tuaku.

Seiring berjalannya waktu, aku melanjutkan ke jenjang madrasah yang lebih tinggi dengan intensitas kesibukan beragam. Hal ini menyebabkan mesin ketikku menjadi pengangguran. Dia kembali menjadi teman setia ketika aku menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah, nilaiku A.

Tahun demi tahun kulewati. Jadilah aku seorang guru sesuai cita-citaku. Kubaktikan hari-hari untuk menjadi pengajar di madrasah tercinta. Banyaknya jam mengajar menyebabkan gairah menulisku semakin terkubur di pikiran yang terdalam.

Beberapa tahun terakhir ini, gaung gerakan literasi sekolah mulai bergema. Namun hal itu belum menggerakkan niatku untuk kembali menulis. Sampai akhirnya datanglah seorang teman lama yang mutasi ke madrasahku. Dialah yang menyemangatiku untuk kembali menulis. Dia juga selalu mengingatkanku setiap ada lomba agar aku mencoba untuk ikut mengirim naskah. Semangat menulisku pun lambat laun bangkit kembali. Terima kasih ya, Mbak Say. (sapaan yang sering dia gunakan dan akhirnya kuikuti). Berkat arahanmu, akhirnya naskah yang kukirim pertama kali di Media Guru lolos menjadi pemenang. Mungkin karena kebetulan temanya sesuai dengan kesukaanku, kuliner. Ha ha ha.

Tahun berikutnya, datanglah kepala madrasah baru. Beliau yang seorang ibu juga menyemangatiku untuk menulis. Kehadiran beliau jadi mengingatkanku pada almarhumah ibuku yang telaten mendorongku untuk giat menulis. Tak terasa, air mata mulai menggenang di kedua mata saat mengingat beliau dan mencurahkan tulisan ini. Terima kasih ayah ibu, atas doa, jasa, dan pengorbananmu kepada putrimu yang takkan terbandingkan oleh apapun sehingga berhasil menjadi guru seperti yang kau idamkan. Engkau di sana pasti tersenyum melihatku kembali menulis. ***

Leave a Reply