MENULIS ITU CANDU

Ada rasa bimbang dan rendah diri menyelinap dalam hati ketika pertama kali mencoba mengikuti lomba menulis di Media Guru Indonesia. Bagaimana tidak, karena ilmu menulis artikel belum ada, diklat sagusabu yang rencananya saya ikuti, terpaksa batal karena bersamaan dengan kegiatan sertijab Kepala Madrasah. Kucoba untuk menepis rasa tidak percaya diri tersebut dengan berusaha belajar secara otodidak dengan browsing ragam artikel dan teknik menulis di internet.

Ketika Media Guru merilis satu topik untuk dilaunching dalam lomba, sedikit demi sedikit kukumpulkan segenap kemampuan literasiku untuk merangkai kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi paragraf. Sebagai tambahan referensi, kubaca tulisan-tulisan teman di blog gurusiana, kucari sebanyak-banyaknya literatur yang berkaitan dengan topik itu. Berbekal sedikit teori tentang parafrasa kalimat, kuaplikasikan untuk menyusun konsep dan statemen baru. Dengan teliti dan hati-hati kususun kalimat-kalimat yang sudah aku parafrasa, agar terhindar dari plagiarisme. Satu artikel saja ternyata tidak selesai dalam sekali duduk. Sungguh kegiatan menulis ini benar-benar memeras otak, dan menyita waktu.

Setelah tulisanku terkirim ke panitia lomba, otakku terasa lelah dan membutuhkan healing. Kumanjakan diriku sejenak untuk tidak memikirkan apapun, untuk recovery agar energiku kembali normal. Tetapi aku tidak boleh berlama-lama pada posisi nyaman, karena tugas yang lain sudah antri menunggu untuk dikerjakan. Dalam hatiku bertanya, kok bisa teman-teman menulis setiap hari, mengikuti lomba setiap waktu, dan sampai menerbitkan sebuah buku. Apa mereka tidak capek, kok mereka bisa membagi waktu di sela-sela kesibukan pekerjaannya.

Hampir satu bulan lamanya aku menunggu waktu pengumuman lomba menulis di Media Guru. Dengan diliputi rasa ragu-ragu dan penasaran kupantau terus website Media Guru. Akankah namaku akan muncul di pengumuman itu, atau hanya akan menjadi arsip yang tak dikenali lagi. Antara ragu dan optimis, rasa itu terus berkecamuk menghiasi hari-hariku. Dan ketika tiba saatnya pengumuman, kuscroll layar HP ku perlahan-lahan agar tidak satupun nama yang terlewat, termasuk nama teman-teman guru dari MTsN 2 Jember. Antara percaya dan tidak, kudapati namaku tertulis di sana. Awalnya ragu ketika membaca namaku di pengumuman itu, apa benar tulisanku layak untuk menjadi pemenang. Tetapi saat melihat judul artikelnya, ternyata memang benar itu namaku dan judul yang tertera juga judul dari tulisanku. Alhamdulillah.

Mulai saat itulah perlahan rasa percaya diriku mulai terbangun. Ternyata aku bisa, ternyata tulisanku diperhitungkan. Setelah itu, pada lomba menulis di bulan berikutnya aku mencoba berpartisipasi lagi, dan alhamdulillah juga menang. Seperti biasa, ada  atensi dan apresiasi dari Kepala Madrasah bagi guru dan murid yang memenangkan lomba menulis di Media Guru. Sebuah sertifikat perhargaan diserahkan kepada guru dan murid pada momen apel pagi atau upacara bendera. Penghargaan ini begitu berarti bagiku, dan yang penting adalah pengakuan atas karyaku. Pengakuan bahwa tulisanku layak berdampingan dengan tulisan teman-teman gurusioner lain. Ini adalah luar biasa bagiku, dan menjadi bahan bakar untuk terus menulis dan menulis lagi.

Begitulah sejak dinyatakan menjadi pemenang, semangatku untuk menulis selalu membara. Setiap bulan senantiasa kusempatkan untuk mengikuti lomba menulis, walaupun pekerjaan menumpuk. Jika kita sudah terbiasa menulis, ternyata menulis itu mudah dan tidak lagi memerlukan banyak waktu. Dan ketika menulis itu sudah menjadi habit, rasanya ada yang kurang jika melewatkan waktu tanpa menulis. Ternyata menulis itu candu.

Tegalgede, 10 September 2022

Leave a Reply