PENJUAL TELUR DAN POLISI

You are currently viewing PENJUAL TELUR DAN POLISI

Oleh : Nur Indah Rakhmawati.

Jono namanya, ia seorang yang baru belajar menjadi pengusaha. Awalnya Jono hanyalah seorang pengepul telur bebek di desanya, yang biasa dia beli dari “sontoloyo”, sebutan untuk si pengembala bebek disawah, kemudian dia jual ke mas Adi seorang pengusaha telur asin yang sudah sukses di kota. Mas Adi adalah kakak tingkatnya waktu kuliah di jurusan ekonomi dulu. Seperti biasa Jono tidak langsung pulang ketika mengantar telur. “Saya boleh bantu-bantu nich mas?” Kata Jono. “Boleh, asal nggak merepotkan kamu” kata Mas Adi. Dengan senang hati Jono mulai melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan karyawan lainnya untuk membuat telur asin, Mudah sekali hanya dengan memperhatikan mereka, Jonopun bisa menyesuaikan diri..

Waktu sudah siang, Jonopun berpamitan untuk pulang ke pondok mertua indah, maklum dia masih menumpang di rumah mertua. Diperjalanan dengan mengendarai motor dan box yang sudah kosong, Jono mulai memikirkan sesuatu, terbersit di fikirannya ingin menjadi pengusaha seperti Mas Adi. Bahan baku bisa dia dapatkan dengan mudah, cara mengolahnyapun dia sudah tahu, karena sering membantu Mas Adi dalam proses produksi telur asin.

Sesampai di rumah, Jono mulai menceritakan keinginannya kepada sang istri. “Kalau telur bebek yang selama ini kita jual mentah, kemudian kita olah jadi telur asin yang sudah matang, kemudian kita jual ke rumah makan atau warung-warung, pasti keuntungannya lebih banyak dik…” ujar Jono antusias menjelaskan pada istrinya, dan istrinya tampak manggut-manggut tanda setuju. Jono dan istrinya mulai menyiapkan bahan baku lain selain telur bebek yang biasa di beli dari para Sontoloyo. Kebutuhan yang lain yaitu bata merah dan garam, mudah sekali di dapat. Disamping rumah ada tumpukan sisa bata merah yang tidak terpakai, bahkan kondisinya sudah patah-patah dan mulai berlumut. Sang istripun meminta ijin ke orang tuanya untuk memanfaatkan bata merah yang menumpuk disamping rumah dan tidak terpakai untuk dijadikan bahan pembuatan telur asin. Orang tuanyapun mengijinkan. Tinggal membeli garam di pasar.

Proses pembuatan pengasinan telur, mulai dari mencuci teluŕ hingga bersih, menumbuk bata merah dan mengayaknya hingga lembut, mencampurnya dengan garam hingga proses melumuri telur dengan adonan campuran bata merah dan garam, sampai mencatat dan memberi tanggal pada keranjang-keranjang yang sudah penuh teluŕ, semua dilakukan berdua. Tiap hari Jono dan istri melakukannya dengan semangat dan tak kenal lelah. Rutinitas tiap hari Jono dan istri adalah, siang hari berdua mereka mendatangi rumah para pemilik bebek yang menjadi langganannya untuk membeli telur-telur bebek nya. Setelah pulang, telur-telur tadi segera dicuci sambil disikat hingga bersih. Dilanjutkan membuat adonan untuk proses pengasinan telur. Dan menyimpannya di keranjang-keranjang yang sudah disiapkan, tak lupa membubuhi tulisan tanggal pembuatan dan disimpan kurang lebih satu minggu untuk proses pengasinan. Dilanjutkan dengan mengambil keranjang berisi telur yang sudah asin untuk dibersihkan dari adonan yang menempel dan sudah mengering, kemudian mengukusnya dalam dandang besar di dapur. Setelah jam beker berbunyi sesuai waktu yang direncanakan, telur yang sudah matang kemudian di taruh di talam dari bambu, (tampah kata orang jawa) untuk didinginkan.

Pagi hari bangun tidur seusai sholat subuh dan bersih-bersih diri istri Jono memberi stempel bertuliskan “Telur Asin Indah” sebagai brand produknya. Jonopun siap memasarkan ke rumah makan, warung, dan kios-kios yang dia lalui dengan motor yang penuh box berisi telur asin matang. “Berangkat ya dik… doakan dagangannya laris” kata Jono kepada istrinya. Dengan mencium tangan suaminya, sang istri tersenyum sambil mendoakan keselamatan suami dan keberhasilan dalam mendistribusikan telur asinnya. “Hati-hati dijalan ya mas.., jangan lupa baca doa dulu” kata istrinya dengan manis.

Jono mulai menjajakan telur asin dagangannya ke tempat-tempat langganannya, dengan cara menitipkannya dan mengambil uangnya setelah beberapa hari kemudian saat telurnya habis dan mengisi dengan telur asin yang baru. Selain Jono, ada satu orang distributor yang juga memasarkan telur asinnya. Telur asin buatan Jono dan istrinya terkenal dengan rasa asinnya yang pas, masir dan jika di belah tidak berair, sehingga lebih tahan lama. Setiap hari jika dagangannya masih ada, maka Jono harus mencari rumah makan atau kios baru yang belum jadi langganannya untuk ditawari produknya, agar pasarnya bisa semakin melebar atau semakin banyak rumah makan atau warung yang menjadi langganannya. Memang menjadi seorang wiraswasta harus ulet, tekun, teliti, semangat dan pantang menyerah, itulah kunci kesuksesan. Begitu yang pernah dia baca di Buku Ilmu Jiwa Menjual saat dia kuliah ďulu.

Suatu hari Jono menjajakan telur asinnya ke daerah yang lebih jauh, dengan harapan dia bisa mendapatkan pelanggan baru. Jono belum menguasai medan di daerah yang baru ini, ternyata dia salah jalur. Tak jauh dari jalan tersebut tampak polisi tiba-tiba priiiitt… bunyi peluit yang cukup mengagetkan. Tiba-tiba seorang polisi sudah berdiri di depannya.

Polisi: Selamat pagi pak…

Jono : Pagi

Polisi: Maaf, bapak salah jalur, seharusnya ini satu arah

Jono : Maaf pak, saya tidak tahu

Polisi: Mana STNK dan SIM nya pak.

Jono : ini pak lengkap

Polisi: mari ke pos

Ternyata disana Jono diminta uang dengan alasan sidang ditempat. Dia bilang tidak punya uang karena belum ada yang laku, tapi polisi tak percaya, akhirnya polisi mintà untuk dibelikan roti dan sprite untuk 2 orang. Hemm… dengan hati yang sedikit kecewa, akhirnya dibelikan juga.

Setelah keliling memasarkan telur asinnya, siang hari Jono pulang. “Alhamdulillah, Allah telah memberikan rezeki hari ini lebih banyak dari kemarin. Semoga berkah. Aamiin”. Ucap Jono dalam hati. Sesungguhnya Allah maha tahu yang terbaik untuk hambanya yang sabar.

Leave a Reply